Minggu ini adalah minggu yang paling “menghitamkan”. Maksudnya membuat kulit saya yang hitam ini semakin hitam gara-gara dihabiskan di lapangan. Tanggal 20-24 Desember saya ke Bromo. Praktikum Gunung Api. Kemudian tanggal 26-29 Desember saya ke lereng selatan Gunung Merapi dalam rangka diklat angkatan baru. Dari tanggal-tanggal yang saya sajikan, hitung saja sendiri berapa hari sudah saya menghabiskan waktu di luar kamar.
Di Bromo saya mengalami kejadian aneh, kalau tidak bisa dikatakan mistis. Hari terakhir, saya praktikum metode Self Potensial. Saya dan dua orang kawan bekerja sama mengakuisisi data potensial diri medium dari arah bromo radial ke arah luar, Ngadisari.
Pada sebuah interval, multimeter yang kami gunakan bertingkah aneh. Benda itu berulah, nilai yang diukurnya selalu nol. Berkali-kali dicoba selalu nilai yang keluar nol. Pertanda akuisisi salah adalah multimeter mencatat nilai nol dua kali berturut-turut. Anehnya, ketika kami lanjut ke interval lain, multimeter kembali bekerja dengan baik dan benar. Sampai akhir line tidak lagi ada masalah. Kok bisa begitu ya? Apa nggak ada perubahan nilai potensial diri? Bisa jadi. Dan untungnya, ternyata setelah diolah, tidak ada masalah pada datanya.
Jika saya orang yang percaya takhayul, pasti saya sudah menyembah-nyembah dan membakar dupa di tempat itu.
Senin malam, selama beberapa jam, saya sendirian menjaga basecamp di Kalikuning. Kawan-kawan lain pergi ke “pusat keramaian”. Alhamdulillah selama sendirian itu saya tidak melihat sesuatu yang aneh. Apapun; sosok berpakaian putih berambut panjang, yang kain bagian kaki dan kepalanya diikat, yang berambut kusut dan bertampang mengerikan, atau yang kecil-kecil caberawit jago nilep.
Padahal ada seorang senior saya yang “bisa melihat” mengatakan kalau di tempat itu banyak “yang aneh-aneh”.
Jadi apakah “yang aneh” itu benar-benar ada?
Ndak tau juga. Yang pasti saya belum pernah lihat. Sejauh ini, menurut saya, “yang aneh-aneh” itu sebenarnya adalah visualisasi dari yang kita pikirkan dalam kepala. Pikiran yang ketakutan memproyeksikannya menjadi sesuatu yang seolah nyata dalam pandangan. Singkat kata, “yang aneh-aneh” itu sebenarnya berasal dari pikiran kita.
Lalu kok bisa orang-orang melihat perwujudan yang sama? Di Bogor orang lihat pocong, di tempat lain juga, begitu juga di tempat-tempat lain. Ada yang lihat Kuntilanak di berbagai tempat. Emangnya hantu punya klan?
Sedang di Amerika gak ada yang lihat makhluk-makhluk itu. Ya, jawabannya seperti paragraf di atas tadi. Ditambah film-film lokal banyak yang menampilkan sosok mengerikan itu. Tontonannya sama, bayangannya pasti juga sama.

