Uncategorized31 Des 2009 10:34 am

Minggu ini adalah minggu yang paling “menghitamkan”. Maksudnya membuat kulit saya yang hitam ini semakin hitam gara-gara dihabiskan di lapangan. Tanggal 20-24 Desember saya ke Bromo. Praktikum Gunung Api. Kemudian tanggal 26-29 Desember saya ke lereng selatan Gunung Merapi dalam rangka diklat angkatan baru. Dari tanggal-tanggal yang saya sajikan, hitung saja sendiri berapa hari sudah saya menghabiskan waktu di luar kamar.

Di Bromo saya mengalami kejadian aneh, kalau tidak bisa dikatakan mistis. Hari terakhir, saya praktikum metode Self Potensial. Saya dan dua orang kawan bekerja sama mengakuisisi data potensial diri medium dari arah bromo radial ke arah luar, Ngadisari.

Pada sebuah interval, multimeter yang kami gunakan bertingkah aneh. Benda itu berulah, nilai yang diukurnya selalu nol. Berkali-kali dicoba selalu nilai yang keluar nol. Pertanda akuisisi salah adalah multimeter mencatat nilai nol dua kali berturut-turut. Anehnya, ketika kami lanjut ke interval lain, multimeter kembali bekerja dengan baik dan benar. Sampai akhir line tidak lagi ada masalah. Kok bisa begitu ya? Apa nggak ada perubahan nilai potensial diri? Bisa jadi. Dan untungnya, ternyata setelah diolah, tidak ada masalah pada datanya. :D Jika saya orang yang percaya takhayul, pasti saya sudah menyembah-nyembah dan membakar dupa di tempat itu.

Senin malam, selama beberapa jam, saya sendirian menjaga basecamp di Kalikuning. Kawan-kawan lain pergi ke “pusat keramaian”. Alhamdulillah selama sendirian itu saya tidak melihat sesuatu yang aneh. Apapun; sosok berpakaian putih berambut panjang, yang kain bagian kaki dan kepalanya diikat, yang berambut kusut dan bertampang mengerikan, atau yang kecil-kecil caberawit jago nilep. :mrgreen: Padahal ada seorang senior saya yang “bisa melihat” mengatakan kalau di tempat itu banyak “yang aneh-aneh”.

Jadi apakah “yang aneh” itu benar-benar ada?

Ndak tau juga. Yang pasti saya belum pernah lihat. Sejauh ini, menurut saya, “yang aneh-aneh” itu sebenarnya adalah visualisasi dari yang kita pikirkan dalam kepala. Pikiran yang ketakutan memproyeksikannya menjadi sesuatu yang seolah nyata dalam pandangan. Singkat kata, “yang aneh-aneh” itu sebenarnya berasal dari pikiran kita.

Lalu kok bisa orang-orang melihat perwujudan yang sama? Di Bogor orang lihat pocong, di tempat lain juga, begitu juga di tempat-tempat lain. Ada yang lihat Kuntilanak di berbagai tempat. Emangnya hantu punya klan? :mrgreen: Sedang di Amerika gak ada yang lihat makhluk-makhluk itu. Ya, jawabannya seperti paragraf di atas tadi. Ditambah film-film lokal banyak yang menampilkan sosok mengerikan itu. Tontonannya sama, bayangannya pasti juga sama. :mrgreen:

201210 Des 2009 08:49 pm

Jika 2012 kiamat, negara yang paling diuntungkan dan menjadi paling terpandang adalah Indonesia. Dua hal di bawah inilah yang akan menyebabkannya.

  • Hutang negara Indonesia tidak perlu lagi dibayar. Mau dibayar kepada siapa coba? Toh seluruh muka bumi akan luluh lantak hancur berantakan. Mengingat sampai maret 2008 saja hutang negara ini adalh 1300 T, paling tidak kita untung sejumlah itu. :mrgreen:
  • Kiamat membuktikan keberadaan Tuhan. Seperti yang disebutkan dalam kitab-kitabNya bahwa kiamat pasti terjadi. Sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan mengakui secara “resmi” keberadaan tuhan, Indonesia akan tampil sebagai negara terpandang. Sebaliknya negara-negara yang orang-orangnya kebanyakan atheis, akan menjura-jura sia-sia memohon perlindungan kepada Tuhan yang bahkan tidak mereka akui.

Gimana? Kalau sudah begitu kamu pasti bangga, kan, jadi orang Indonesia? :mrgreen:

DPRD08 Des 2009 12:58 am

Anggota dewan kita sepertinya cinta kebersihan. Jangan dibayangkan bahwa mereka rela menggantikan tugas pasukan kuning untuk membersihkan halaman kantor mereka. Itu jelas tidak mungkin terjadi. Yang saya maksud adalah anggota dewan suka menerima gaji “bersih”.

Artinya, gaji yang berjuta-juta itu, FYI gaji anggota dewan Jatim bulan September 2009 adalah 25 juta, tidak boleh dipakai untuk membeli barang kelengkapan tugas mereka. Buktinya 50 orang anggota DPRD Gresik ramai-ramai minta laptop pada pembahasan RAPBD 2010.

Tidak tanggung-tanggung, komputer jinjing yang diminta adalah yang berharga 18 jutaan. “sehingga untuk pengadaan 50 buah laptop bisa menghabiskan anggaran Rp900 juta,” menurut antarajatim.com. Canggih, man! Mengingat palingan laptop itu cuma dipakai untuk membuka microsoft word dan mengetik, atau main solitaire, 18 juta adalah harga yang terlalu luar biasa.

Yang saya tidak habis pikir, di tengah kesulitan ekonomi yang melanda negara saat ini, kok bisa-bisanya anggota dewan yang terhormat itu request macam-macam. Sedang untuk menggaji mereka saja nafas keuangan kita sudah ngos-ngosan.

Pak anggota dewan Gresik, kalau jenengan sekalian benar-benar ingin punya laptop, sisihkan saja 3-4 juta dari gaji jenengan. Beli saja netbook merk HP atau Advan yang murah. Nggak perlu yang 18 jutaan. Lha? Anda sekalian emangnya mau ngapain dengan laptop supercanggih seperti itu?

Si Unyil masih mending, Pak. Manfaat laptopnya masih terasa bagi masyarakat. Nah, Anda?

Ujian Nasional05 Des 2009 12:02 am

Selain berdiskusi dengan Gimbal di posting sebelumnya, saya juga terlibat urun rembug tentang UN dengan seorang kawan. Senior saya lebih tepatnya.

Dia juga sama tidak setujunya dengan saya bahwa UN ditiadakan. Bedanya, sepuh saya ini lebih bisa menjelaskan ketidaksetujuannya itu dengan alasan yang gamblang. Pintar mencari analogi yang bisa bikin lawan bicaranya manggut-manggut.

Di tengah obrolan, senior sepuh saya ini bertanya pada saya, “Kau ngerti perbedaan logika yang dipakai tim balap F1 dengan logika orang Indonesia kalau mau mengadakan acara nggak?”

Saya menggeleng. Bingung. “Ora, Kang.”

Lanjutnya, “Tim balap F1 kalau pas balapan kebetulan hari hujan, yang mereka pikirkan itu bukannya supaya hujannya cepat reda. Mereka mengakali dengan mengubah spesifikasi ban yang dipakai atau masalah teknis lainnya.

“Nah, kalau orang Indonesia mengadakan acara dan kebetulan waktu itu hujan, malah hujannya yang dihilangkan.”

Katanya, “UN ini mengadopsi logika yang kedua.” Logika pawang hujan. Kalau memang orang-orang yang protes tadi khawatir akan banyak siswa yang tidak lulus UN, jangan malah UNnya yang dihapus.

Sistemnya mungkin yang perlu diubah. Sistem yang dimaksud juga meliputi aspek-aspek seperti metode pengajaran, mutu pendidik, fasilitas untuk pendidik dan peserta didik, dan aspek-aspek lain yang jika tetap seperti sekarang, akan tetap banyak siswa yang tidak lulus UN.

Jika sekolah diibaratkan dengan lomba lari, UN adalah finishnya. Yang harus dimaklumi adalah bisa jadi tidak semua peserta bisa sampai finish. Mungkin ada beberapa yang gagal karena kurang persiapan dan kurang tekun berlatih.

The Amazing Race02 Des 2009 12:57 am

Masih dari The Amazing Race. Ketika menonton acara itu, ada sesuatu yang saya rasa tidak adil. Setidaknya tidak adil menurut pemikiran saya. Cekidot!

Di negara-negara yang bahasa resminya bukan bahasa inggris, kontestan pasti akan selalu bertanya begini pada supir taksi atau orang-orang kurang beruntung yang lewat, “Do you speak english?” Kadang dengan nada yang kurang bersahabat. Ya, pongah-pongah gitu deh.

Syukur kalau yang ditanya menjawab, “Yeah! I do.” Giliran yang ditanya tidak merespon, menggeleng, atau menjawab “No!”, jika tidak berlalu begitu saja, mereka pasti akan menggerutu. Menggerutu karena orang itu tidak berbahasa inggris. Tapi tunggu. Excuse me, meester! Where the hell are you?

Bahasa Inggris memang sudah jadi bahasa internasional. Akibat dari “merajai” dunia abad 18, 19, dan 20 lalu, Bahasa Inggris menjadi lingua franca. Bahasa “globalisasi”. Tapi tetap saja tidak adil jika mereka “memaksakan” bahasa mereka di negara yang mereka kunjungi. Ingat meester, anda bukan sedang berbisnis, anda bukan sedang berdagang, tapi anda sedang jalan-jalan. Berinteraksi dengan masyarakat setempat. Saya ulangi. Setempat.

Coba kita, orang Indonesia, jalan-jalan ke Amerika dan bertanya, “Gedung Putih di sebelah mana ya, mas?” Pasti yang ditanya langsung menjawab sebelum pertanyaan berakhir, “Sorry, man! Can’t understand what are you saying”

Jadi, saya pengen coba sekali-sekali berkata begini ketika bule bertanya dalam bahasa inggris, “Anda bisa Bahasa Indonesia?” :mrgreen:

The Amazing Race29 Nop 2009 12:24 am

Menurut wikipedia, secara terminologi pengertian “karma” sedikit agak rumit. Ensiklopedi online itu bahkan mengulas karma dari berbagai macam kepercayaan. Mulai dari perspektif Hindu, Jain, Sikh, dan Budhisme. Tapi secara awam, karma bisa diartikan sebagai “seseorang pasti mendapat ganjaran atas apa yang telah mereka perbuat.”

Itu terbukti di The Amazing Race season 3. FYI, saya sekarang memang sedang menggilai tayangan race around the world ini. Bukan apa-apa, mudah-mudahan saja tips-tips yang secara tidak langsung disajikan di acara ini bisa berguna bagi perjalanan keliling dunia saya suatu saat nanti. Amin! :mrgreen:

Photobucket

Pada episode-episode awal season 3, di suatu tempat di Eropa, tim yang terdiri dari sepasang saudara kembar bernama Derek & Drew, ngibulin Teri & Ian. Saudara kembar itu bohong kepada sepasang suami-istri paruh baya itu bahwa mereka belum menemukan clue.  Tujuannya sih supaya Teri & Ian bisa ketinggalan lama dari mereka.

Tau-tau sewaktu di Vietnam, mereka gantian dibohongi oleh tim lain. Bahkan gara-gara dibohongi mereka sampai tereliminasi dari race. :mrgreen: Karma works!

Bukti kedua datang dari tim adik-kakak tambun Ken & Gerard. Merekalah yang berbohong pada Derek & Drew. Dan tahukah anda kebohongan itu dibalas dengan apa? Dibalas dengan hukuman fisik: mereka jatuh dari becak. :mrgreen:

So, what’s your opinion about karma? :D

Ujian Nasional26 Nop 2009 04:12 pm

Bukan korban United Nations maksud saya. Kalau UN yang itu kerjaannya malah menyelamatkan korban, menjaga perdamaian di daerah konflik, dan terus mencoba menyelamatkan dunia. Walaupun sekarang sedang impoten gara-gara penetrasi Amerika yang terlalu dalam.

Jadi UN pada posting ini adalah Ujian Nasional. Metamorfosis dari Ebtanas yang tiap tahun menuai protes dari orang-orang yang merasa menjadi korban “keganasan” ujian akhir tingkat sekolah itu.

Memang sejak UN diberlakukan tahun ajaran (TA) 2002/2003 lalu (CMIIW), kalau tidak salah, sangat banyak peserta didik yang tidak lulus akibat nilai mereka tidak memenuhi standar. TA itu saya lulus SMP dan standar minimum kelulusan untuk tiga mata pelajaran (Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris) adalah 3.0.

Tiap tahun standar ini meningkat dan jumlah siswa yang tidak lulus tidak bisa dikatakan menurun. Kemudian muncullah protes di mana-mana. Mulai dari media cetak sampai ke jalanan banyak orang, yang rata-rata mengaku menjadi korban UN, menyuarakan protes terhadap UN. Ada yang minta UN diulang, ada yang minta UN ditiadakan, ada yang bilang UN tidak adil, macam-macam protes lah.

Sekitar sebulan yang lalu, tanggal 14 September 2009, akhirnya “Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi gugatan Ujian Nasional (UN) yang diajukan pemerintah. Dengan ini UN dinilai cacat hukum dan pemerintah dilarang menyelenggarakannya.” (koran sindo)

Dalam putusannya, para tergugat, yakni Presiden,Wakil Presiden, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas),dan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP),dinyatakan lalai memberikan pemenuhan hak asasi manusia (HAM) terhadap warga negara, khususnya hak atas pendidikan dan hak anak yang menjadi korban UN.

Pemerintah juga dinilai lalai meningkatkan kualitas guru, terutama sarana dan prasarana sekolah, akses informasi yang lengkap di seluruh daerah sebelum melaksanakan kebijakan UN. Pemerintah diminta pula untuk segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi gangguan psikologis dan mental peserta didik usia anak akibat penyelenggaraan UN. Menanggapi hal ini, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh belum mau berkomentar.

Berarti para korban UN sudah puas, ya, sekarang? Tidak ada lagi UN. Bukan pusat lagi yang menentukan kelulusan siswa. Semua, mungkin, kembali lagi ke sekolah. Seperti Ebtanas dulu yang kelulusan seorang siswa ditentukan oleh rapat majelis guru. Di mana peluang untuk berbuat curang lebih besar karena rapat di “kalangan sendiri.”

Aneh rasanya saya mendengar istilah korban UN. Seolah-olah UN ini adalah seorang serial killer yang membunuh ratusan ribu siswa tingkat akhir SMP dan SMA setiap tahun. Ayolah! UN ini cuma untuk membuktikan keseriusan seorang siswa dalam belajar. Saat pembuktian apakah mereka memperhatikan pelajaran atau tidak.

Saya pribadi sebenarnya adalah pendukung UN. UN diperlukan agar standar pendidikan di Indonesia bisa sama. Agar mutu lulusan di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, dan seluruh indonesia bisa sama.

UGM25 Nop 2009 12:01 am

Mulai dari paragraf ini sampai berikutnya, tulisan akan mengalir menurut subjektif saya. Dan saya bicara in general. Oke. Saya bangga menjadi mahasiswa sebuah universitas yang mengambil namanya dari nama besar seorang Patih Majapahit. Kampus saya ini, katanya, dan saya percaya, juga telah banyak menelurkan lulusan yang berkontribusi besar terhadap bangsa dan negara. Salahsatu “Ivy League” Indonesia lah pokoknya. :mrgreen:

Tapi ada satu komponen yang saya kurang suka dari sistem kampus ini; para karyawan kantor akademik, baik tingkat fakultas ataupun universitas. Saya tidak akan menjabarkan secara sistematis hal-hal yang menyebabkan saya kurang menyenangi mereka. Saya cuma tidak menyukai ekspresi mereka ketika “berhasil menambah sebuah kesulitan lagi pada diri seorang mahasiswa yang memang sedang kesulitan.” Ekspresi berkuasa, puas, dan jumawa.

Suatu hari sekitar setahun yang lalu. Saya mengambil 22 Satuan Kredit Semester (SKS). Di sini SKS disebut juga sebagai Biaya Operasional Pendidikan (BOP). Di fakultas saya, satu SKS dihargai sebesar IDR 75,000. Nah, ketika sudah berhadapan dengan teller bank untuk membayar BOP yang 22 SKS itu, ternyata ada kesalahan kecil. Menurut data bank, saya mengambil 24 SKS. Rugi bayar dua SKS dong. Bank menyuruh saya untuk mengurusnya ke fakultas.

Saya uruslah ke fakultas. Ternyata keliru, orang fakultas dengan wajah tanpa dosa mengatakan bahwa saya harus mengurusnya ke kantor pusat. Maka berjalanlah saya ke kantor pusat. Saat berhadapan dengan “juru kunci” database mahasiswa di kantor pusat, sang juru kunci itu malah meminta surat keterangan dari fakultas. Untung tidak saya gigit meja kerjanya. Kenapa sebelum menyuruh saya untuk melakukan perjalanan ke timur orang fakultas tidak membekali saya dengan surat keterangan?

Karyawan akademik juga sering terlalu mengurusi hal-hal sepele. Seperti beberapa waktu yang lalu saat saya akan mengambil kartu ujian tengah semester (UTS). Jadi, untuk menebus kartu ujian, anda harus menyerahkan dulu fotokopi pembayaran BOP. Setelah itu anda akan menerima kartu ujian yang belum dicap. Agar bisa dicap, anda harus menempelkan dulu pas foto di kanan atas. Baru setelah itu *BAM!* kartu anda dicap.

Waktu itu saya sengaja membawa foto bekas kartu ujian semester lalu. Bentuknya masih seperti pas foto meskipun agak keriput dan bekas cap masih menempel. Sebagai mahasiswa yang anti kekeringan dan kekeringan kantong, saya nggak mau dong kalau tiap mau ujian cuci foto terus. Jadi, saya serahkanlah foto bekas itu ke “ahli cap” bidang akademik. Ternyata foto itu tidak bisa digunakan. Kata beliau dengan raut wajah penuh kemenangan, “Masih ada bekas cap, mas.” Timbul nafsu untuk menggigit meja kerjanya. Untung akal saya masih berjalan dan saya menemukan solusi pada sebuah gunting.

Yang paling anyar hari jumat (20/11). Saya berniat untuk membuat Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) baru di kantor pusat. Surat keterangan hilang dari kepolisian sudah ditangan. Setelah diajak berputar-putar di rektorat UGM oleh seorang kawan yang mengaku mengerti tempat pembuatan KTM, akhirnya saya sampai di bidang akademik. Waktu menunjukkan pukul 14.55. Lima menit sebelum bubar. Suasana mamang sudah seperti mau pulang.

Btw, saya mengerti bahwa butuh waktu kurang dari tiga menit untuk membuat KTM baru. Artinya, pada pukul 14.58, KTM saya sudah akan selesai. Tapi tahukah anda apa yang dikatakan oleh petugas pembuat kartu? “Wah! Komputernya sudah mati e, mas …” Seperti komputernya sekali pakai saja.

Cicak vs Buaya and Manohara and Maria Ozawa21 Nop 2009 12:01 am

Penulis buku Kewarganegaraan ataupun Pancasila untuk sekolah menengah sepertinya perlu menambahkan satu kata lagi dalam sub-bahasan karakter bangsa; Headlinesentris.

Jangan protes dulu. Kata yang agak susah dibaca dan diucapkan siswa kelas 1 SD ini cuma rekaan saya saja. Tidak ada maksud untuk mempopulerkannya seperti halnya pencetus istilah “narablog.” Saya mengartikan headlinesentris sebagai menjadikan headline di media sebagai titik pusat pemikiran, bahasan, atau kajian.

Mari kita rewind ke awal 2009. Yang paling populer dan kerap menjadi headline pada saat itu adalah Manohara. Nama yang awalnya saya sangka sebagai nama seorang gadis Jepang ini ternyata milik seorang dara Indonesia di bawah umur yang diperistri oleh putra Sultan Kelantan, Malaysia.

Datang dari tempat yang tidak diduga, Manohara dan Ibunya selama beberapa waktu memenuhi media cetak dan elektronik dengan kisah yang mereka alami. Disilet lah, disiksa lah, dll. Kemudian bermunculanlah dukungan terhadap anak dan ibu ini. Bagaimana dukungan tidak bermunculan jika dari pagi sampai tengah malam stasiun TV kebanyakan mengulas M-A-N-O-H-A-R-A. Manohara. Lucunya, perempuan tertindas itu sekarang malah jadi bintang sinetron.

Beberapa bulan kemudian, sekitar september-oktober 2009, Raditya Dika membocorkan rahasia bahwa Maria Ozawa akan mampir ke Indonesia. Bukan untuk kimpoy, tapi untuk main film yang naskahnya ditulis Si Kambing Jantan; Menculik Miyabi.

Indonesia gempar. Keyword Miyabi atau Maria Ozawa menjadi favorit para penggiat SEO. Timbul protes dari mana-mana. Mulai dari kelompok ibu-ibu majelis ta’lim daerah anu, orang-orang berjanggut dan bersurban yang rajin mengepalkan tangan ke atas, sampai santri-santri pesantren kabupaten anu berduyun-duyun melakukan demonstrasi anti-miyabi.

Mahasiswa Kudus, yang notabene baru pulih dari fatwa haram rokok, juga tidak mau ketinggalan; mereka melakukan aksi membakar pakaian dalam wanita dan VCD Maria Ozawa. Entah apa relevansinya menolak pornografi dengan membakar pakaian dalam wanita. Membakar bukannya identik dengan melucuti? :mrgreen:

Miyabi bahkan jadi jauh lebih populer dibandingkan sebelumnya. Mengobrol tentang “manstab”nya video Maria Ozawa downloadan terbarunya di tempat umum pun sudah mustahil. Semua sudah terlanjur mengenali Miyabi. Lagi, selama beberapa waktu Miyabi menghiasi kertas koran dan layar cetak. Isu lain, ke laut dulu saja.

Sekitar sebulan yang lalu. Cicak dan Buaya tiba-tiba menjadi populer akibat seorang anggota Polri salah ucap. Entah siapa yang benar siapa yang salah, kita sama-sama belum tahu. Yang jelas lagi-lagi fokus masyarakat tertuju pada headline.

MUI18 Nop 2009 12:55 pm

Akhir-akhir ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) semakin sering menuding dan mengeluarkan fatwa haram. Saya maklum jika di tengah dunia yang terus menerus dilanda “arus besar” informasi, hanya menuding dan mengharamkan inilah yang akan membuat MUI tetap terlihat eksis dan produktif.

Beberapa tahun belakangan ini, tercatat beberapa hal yang diharamkan oleh MUI. Tidak peduli diharamkan skala nasional, oleh MUI pusat, atau diharamkan secara lokal oleh MUI daerah.

Januari 2009. MUI mengeluarkan fatwa haram rokok yang dikecam sebagian besar perokok dan orang-orang yang nasibnya bergantung pada industri rokok. Fatwa ini, saya yakin, sungguh sangat mengecewakan masyarakat Kudus dan penerima beasiswa Djarum atau Sampoerna.

MUI mungkin benar jika beranggapan bahwa merokok itu mubazir mengingat yang dihisap cuma asap. Dan Tuhan melarang berprilaku mubazir. Tapi, sebaiknya dipikirkan juga; berapa banyak orang yang hidupnya tergantung pada jual beli rokok. Jika rokok diharamkan, pikiran awam saya juga akan menganggap bahwa pekerjaan yang berkaitan dengan rokok juga haram. Seperti halnya narkoba.

Hendaknya dipikirkan juga berapa banyak mahasiswa kurang mampu, atau mampu berlagak kurang mampu, yang uang kuliahnya bergantung pada uang yang dimasukkan Djarum atau Sampoerna ke rekening beasiswanya.

Masih januari 2009. Bersamaan dengan dikeluarkannya fatwa haram rokok, MUI juga mengeluarkan fatwa haram Golput. Anyway, belum pernah guru mengaji saya menceritakan sebuah kisah azab kubur atau siksa neraka yang diberikan Tuhan kepada seorang Golput.

Ulama. Ulama di sini berarti orang yang berilmu. Dan menurut saya, ilmu itu tidak hanya ilmu agama. Oke, pokoknya memang ilmu agama tapi juga harus disinkronisasikan dengan ilmu lainnya agar sudut pandang seseorang bisa “kaya”. Makanya saya heran kenapa MUI bisa terbujuk untuk mengeluarkan fatwa haram Golput hanya karena Bapak Hidayat Nurwahid “berharap” MUI mengeluarkan.

Bukankah Golput ini adalah “bunga”nya demokrasi? Ketika seseorang menganggap tidak seorangpun calon yang pantas untuk menjadi pasangan capres dan cawapres, saya rasa, dia berhak untuk tidak menggunakan hak pilihnya. Btw, Pemilu Prancis sewaktu Sarkozy terpilih saja hanya diikuti oleh sekitar 80% pemilih. Dan tidak ada fatwa haram dari majelis ulama atau gereja sana.

Sepertinya januari 2009 adalah bulan terproduktif MUI. Mereka mengeluarkan empat buah fatwa sekaligus; haram yoga, haram vasektomi, haram rokok, dan haram golput. Beberapa bulan kemudian menyusul fatwa haram baru seperti haram mengemis dan haram 2012 (hanya MUI Malang dan MUI Banjarmasin). 2012?

Ada yang mau berkomentar soal pengharaman 2012 ini?

Next Page »